Categories Seni budaya

Perahu Baca: Kalau Anak Susah ke Buku, Buku yang Datang ke Anak

SAMARINDA, CNO – Siti Badariah nggak nunggu anak datang ke perpustakaan. Di Desa Tanjung Saleh, Kubu Raya, Kalbar, dia justru bawa buku naik perahu, nyusurin sungai, nyamperin anak-anak.

Soalnya di sana, hidup warga ya di sungai. Kalau bukunya diem di satu tempat, ya anaknya yang susah datang.

Cerita itu jadi pembuka di Temu Pegiat TBM Nasional ke-2 di Samarinda, Jumat (6/11/2026). 145 pegiat dari 17 provinsi dan 30 kabupaten kumpul, temanya: “Dari Beranda IKN, Merajut Kolaborasi, Menguatkan Literasi.”

Intinya satu: literasi nggak bisa disamaratain.

Di Muntok, Bangka Barat, Rita Orbaningrum bikin TBM Pondok Baca Ceria sejak 2016. Buat dia, baca itu bukan cuma tugas sekolah, tapi pintu buat kenal dunia.

Di Tangerang, Rika Yudani ngingetin, budaya baca itu mulai dari rumah. Bahkan sebelum anak kenal huruf, orang tua udah bisa bacain cerita. Biar baca itu jadi seneng, bukan beban.

Di Banjarbaru, Nurul Asmayani ngingetin soal kualitas. Anak daerah juga berhak dapat buku bagus, bukan buku seadanya.

Terus ada juga sesi budaya. Menurut sastrawan Syafrudin Pernyata, TBM itu bukan cuma tempat simpan buku. Tapi tempat tradisi dirawat, kreativitas dirayain, dan masa depan dibangun.

Yang paling nampol, omongan Kepala Perpusnas, Prof. E. Aminudin Aziz. Dulu perpustakaan sering dipinggirin. Pegawainya buangan, tempatnya deket toilet atau gudang, bukunya sekadarnya.

Padahal, kata dia, literasi itu harus jadi tulang punggung pembangunan. Pustakawan jangan menara gading, harus membumi.

Ketua Umum Forum TBM, Dr. Opik, nutup dengan pesan sederhana:

“Kita ini bukan cuma ngelola tempat baca. Kita lagi bangun ekosistem literasi masyarakat.”

Dari perahu di sungai Kubu Raya sampai beranda IKN, pesannya sama: literasi yang kuat itu lahir dari komunitas.

Tim Red

Artikel lainnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita terkait